CANBERRA (Surau.ID) – Dua dosen UIN Malang mempresentasikan riset mengenai kesetaraan gender perempuan Muslim Jawa Timur dalam International Colloquium: The Futures of Indonesian Islam di ANU, Canberra, Kamis (17/9/2026).
Penelitian karya Jamilah dan Devi Pramitha ini menyoroti alasan perempuan mempertahankan pembagian peran konvensional dalam perkawinan. Temuan ini menjadi bagian penting dalam diskusi dinamika Islam Indonesia di forum internasional.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa pilihan perempuan mempertahankan peran tradisional bukanlah bentuk ketundukan pasrah. Langkah tersebut merupakan bagian dari negosiasi strategis dalam struktur sosial dan keagamaan yang mereka jalani.
Tiga Temuan Utama dan Pandangan Strategis
Riset ini mengidentifikasi bahwa kesetaraan lebih diterima di ruang publik seperti pendidikan dan kerja, ketimbang dalam tata kelola rumah tangga.
Selain itu, terdapat ketergantungan ritual keagamaan pada posisi suami serta keinginan mempertahankan hak nafkah keuangan. Hal tersebut dipandang sebagai perlindungan hak yang menguntungkan posisi perempuan.
Penerapan Konsep Patriarchal Bargain
Temuan ini dibaca melalui kacamata patriarchal bargain Deniz Kandiyoti yang diperluas hingga ke dimensi spiritual dan keagamaan.
“Kesetaraan dalam pandangan sejumlah informan memiliki ruang penerapan yang berbeda. Kesetaraan diterima dalam konteks pendidikan, pekerjaan, kehidupan publik, dan partisipasi sosial, tetapi tidak selalu diterapkan dalam tata kelola kehidupan rumah tangga,” ujar Devi Pramitha, Dosen MPI FTIK UIN Malang.
Studi ini menegaskan pentingnya memahami pertimbangan spiritual dan ekonomi perempuan dalam merancang program kesetaraan gender.