BONDOWOSO (Surau.ID) – Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong pesantren membangun kemandirian finansial melalui pengelolaan wakaf produktif serta pengembangan unit usaha agar tidak bergantung pada pola pembiayaan konvensional.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menekankan bahwa pembiayaan berkelanjutan merupakan instrumen strategis bagi eksistensi pesantren di masa depan. Langkah ini krusial agar kualitas pendidikan tidak terhambat keterbatasan biaya operasional.
Inovasi pembiayaan dinilai mendesak dilakukan guna menghadapi tantangan zaman, termasuk melalui penguatan ekonomi berbasis komunitas dengan melibatkan alumni, pelaku usaha, serta lembaga keuangan syariah.
Potensi ZISWAF Produktif
Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) harus beralih dari orientasi konsumtif menuju produktif guna menciptakan dampak ekonomi jangka panjang.
Langkah ini mencakup sektor agribisnis, peternakan, hingga industri kreatif yang disesuaikan dengan potensi lokal agar pesantren mampu menjadi motor penggerak ekonomi keumatan.
Mandiri Dan Berdaya
Pengembangan unit usaha tidak hanya menopang operasional pesantren, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan bagi masyarakat di sekitar lingkungan pendidikan.
“Yang perlu diubah adalah cara pandangnya, bukan hanya menghimpun, tapi mengelola secara produktif untuk dampak ekonomi jangka panjang,” ujar Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid.
Dengan bertransformasi menjadi pusat kewirausahaan sosial, pesantren diharapkan mampu terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.