Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
11 Februari 2026 | 15:43 WIB
Nasional

Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Ramadhan 1447 H pada 17 Februari 2026, Ini Penjelasannya

Sidang isbat ramadhan
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Abu Rokhmad dalam konferensi pers Joyful Ramadhan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

 

Jakarta (Surau.ID) — Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Senin, 17 Februari 2026, di Auditorium HM Rasjidi, Thamrin, Jakarta. Pemerintah akan mengumumkan hasil sidang tersebut secara resmi sebagai dasar penentuan awal puasa di Indonesia.

Sebelum sidang berlangsung, Kemenag menyelenggarakan Hilal Observation Coaching, sebuah program edukasi pengamatan hilal bagi masyarakat umum dan kalangan muda. Kegiatan ini akan berlangsung sejak pagi hingga sore hari menjelang sidang isbat.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan Bimas Islam 2026.

“Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat akan menjadi momen penting penentuan awal Ramadhan. Sebelumnya, kami juga menyelenggarakan Hilal Observation Coaching sebagai sarana edukasi publik,” jelasnya dalam konferensi pers Joyful Ramadhan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dalam kegiatan edukasi ini, peserta mempelajari teori dan praktik pengamatan hilal di lapangan dengan menggunakan berbagai instrumen astronomi modern. Abu menegaskan bahwa program tersebut juga bertujuan meningkatkan literasi falak di masyarakat serta mendukung semangat Ramadhan Asri: Aman, Sehat, Resik, dan Indah.

“Kami ingin masyarakat semakin memahami proses ilmiah di balik penetapan awal bulan Ramadhan, agar tidak muncul kesalahpahaman di publik,” tambahnya.

Sidang Isbat rencananya akan dihadiri perwakilan organisasi masyarakat Islam, BMKG, BRIN, serta sejumlah duta besar negara sahabat.

Potensi Perbedaan Awal Ramadhan

Direktur Bina Syariah Kemenag, Arsyad Hidayat, menjelaskan bahwa kemungkinan perbedaan awal Ramadhan tetap ada karena perbedaan metode penentuan yang digunakan berbagai ormas Islam. “Kalau berbeda itu biasa, karena cara pandang dan metode penetapan dari ormas-ormas Islam memang tidak sama,” ujar Arsyad.

Ia menjelaskan bahwa sebagian pihak menggunakan metode hisab, sebagian lainnya menggunakan rukyat hilal, dan ada pula pendekatan yang memperhitungkan Konjungsi Hilal Global dan Hilal Lokal (KHGT).

“Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global sudah pasti berbeda, itu sudah pasti,” ujarnya menegaskan.

Menurut Arsyad, Sidang Isbat menjadi forum musyawarah nasional yang mempertemukan seluruh ormas Islam, termasuk Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Persis, untuk menyampaikan pandangan masing-masing sebelum pemerintah menetapkan keputusan.

“Kita dengarkan apa yang menjadi pandangan mereka masing-masing, kemudian dimusyawarahkan, lalu diambil keputusan yang maslahat. Itulah yang nanti akan ditetapkan sebagai keputusan pemerintah terkait awal bulan suci Ramadhan,” kata Arsyad.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati jika terjadi perbedaan penetapan awal puasa. “Kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan itu,” tambahnya.

Prediksi Awal Ramadhan 2026

Berdasarkan Kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan Kemenag, awal Ramadhan diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

Prediksi serupa disampaikan Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin. “Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria,” kata Thomas, dikutip dari Kompascom. Jumat (6/2/2026).

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Lembaga Falakiyah PBNU juga merilis data posisi hilal pada 29 Sya’ban 1447 H atau 17 Februari 2026. Data tersebut menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Tinggi hilal terbesar tercatat di Sabang, Aceh, sebesar minus 1 derajat 41 menit, sedangkan yang terendah di Jayapura sebesar minus 3 derajat 12 menit. Di Jakarta, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 44 menit 39 detik. Ijtimak terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 19:02:02 WIB berdasarkan perhitungan falak metode tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.

Dengan berbagai data tersebut, pemerintah akan menunggu hasil rukyat dan musyawarah dalam Sidang Isbat sebelum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Sumber: Nu Online

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id