Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
02 Oktober 2026 | 11:16 WIB
Daerah

KH. Ach. Fadlail: Jangan Sampai Kita Hanya Menikmati Kebesaran IKSASS dari Perjuangan Para Masyaikh

IMG 20261002 WA0061

 

SITUBONDO (Surau.ID) – Ada warisan yang tidak cukup hanya diterima, tetapi harus dijaga. Ada kebesaran yang tidak semestinya hanya dinikmati, melainkan mesti dilanjutkan dengan pengabdian. Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan 38 tahun Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS).

Pesan tersebut disampaikan KH. Ach. Fadlail, S.H., M.H., Ketua Umum Majelis Tanfidzi Pusat IKSASS, dalam acara Tasyakuran dan Do’a Bersama HARLAH IKSASS ke-38 yang digelar di Aula Lantai II Pusat IKSASS, Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan.”

Bagi KH. Ach. Fadlail, perjalanan 38 tahun IKSASS bukanlah hasil dari satu generasi. Di dalamnya terdapat jejak panjang para masyaikh, pengurus, alumni, serta seluruh generasi yang telah memberikan tenaga, pikiran dan pengabdiannya.

“Antargenerasi, antarperiode, semuanya telah memberikan jasa dan kontribusi. Sehingga hari ini, kita berada dalam satu fase dan dapat merasakan serta menikmati besarnya organisasi ini sebagai lahan perjuangan kita bersama,” jelasnya.

Kalimat itu seperti mengajak generasi hari ini untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa kebesaran IKSASS yang dirasakan sekarang tidak lahir dengan sendirinya. Ada perjuangan yang mendahului, ada keteladanan yang diwariskan, dan ada amanah yang kini berada di tangan generasi penerus.

Ia kemudian mengingat kembali sosok Kiai Fawaid yang disebutnya memiliki peran besar dalam membangun fondasi perjuangan organisasi dan pesantren.

“Di atas fondasi yang sedemikian kokoh dan kuat itulah, KHR. Ahmad Fawaid As’ad mengorkestrasi organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo,” ujarnya.

Bagi KH. Ach. Fadlail, salah satu ukuran keberhasilan seorang pejuang bukan hanya ketika ia mampu membangun sesuatu, tetapi ketika apa yang dibangunnya mampu diteruskan oleh generasi berikutnya.

“Bukti kebesaran dan keberhasilan beliau adalah ketika beliau mampu mewariskan semua itu sebagai medan jihad dan lahan perjuangan yang kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus beliau, oleh Dzurriah beliau, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy bersama Ibu Ny. Hj. Nur Sari As’ad,” ungkapnya.

Dari sanalah makna estafet perjuangan menemukan tempatnya. IKSASS tidak berdiri hanya sebagai organisasi alumni, tetapi menjadi ruang pengabdian yang mempertemukan generasi dengan sanad perjuangan para guru.

Karena itu, amanah kepengurusan hari ini tidak semestinya dipandang sebatas posisi organisatoris. Di dalamnya terdapat kepercayaan dan mahabbah dari guru yang harus diterjemahkan menjadi kesungguhan dalam berkhidmah.

“Kita mendapatkan amanah, mendapatkan kepercayaan dari guru kita bersama, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy,” katanya.

Amanah itu, menurutnya, sekaligus merupakan aliran cinta dari para guru. Mahabbah tidak berhenti sebagai perasaan yang tumbuh dalam hati, tetapi harus menjadi energi yang menggerakkan langkah.

“Maknanya adalah bahwa hari ini kita telah mendapatkan aliran mahabbah, aliran cinta dari guru-guru kita semua. Untuk kemudian menjadi spirit bagi kita, menjadi motivasi bagi kita, untuk totalitas dalam khidmah di organisasi kita,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah kebesaran IKSASS yang telah dibangun selama puluhan tahun. Sebab semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula tanggung jawab generasi yang berada di dalamnya untuk menjaga dan mengembangkan warisan tersebut.

KH. Ach. Fadlail tidak ingin kebesaran IKSASS berhenti sebagai sesuatu yang hanya diwarisi dan dinikmati. Kebesaran itu harus terus bergerak, tumbuh, dan memberi manfaat lebih luas.

“Kebesaran dan keberhasilan yang telah kita bangun akan semakin menggurita, akan semakin membesar seperti bola salju yang terus menggelinding,” tambahnya

Harapan itu bahkan diarahkan jauh melampaui kepentingan internal organisasi. IKSASS diharapkan mampu menjadi cahaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Menjadi sebuah cahaya yang menerangi masyarakat, tidak hanya warga dan alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, tetapi juga warga bangsa Indonesia, umat Islam Indonesia, bahkan mungkin warga bangsa dunia dan umat Islam dunia,” katanya 

Pada akhirnya, peringatan 38 tahun IKSASS bukan hanya tentang bertambahnya usia organisasi. Ia menjadi ruang untuk mengingat siapa yang telah meletakkan fondasi, siapa yang telah berjuang, dan apa yang harus dilakukan oleh generasi yang menerima estafet hari ini.

“Inilah cita-cita besar yang ada di tangan kita hari ini, yang harus kita lanjutkan sebagai sebuah estafet perjuangan dari guru-guru kita semuanya,” ujarnya

Sebab kebesaran IKSASS tidak hanya terletak pada panjangnya usia, banyaknya alumni, atau besarnya organisasi. Kebesaran itu akan menemukan maknanya ketika generasi hari ini mampu merawat mahabbah kepada para masyaikh, menjaga sanad perjuangan, dan meneruskan khidmah yang telah diwariskan.

Merawat mahabbah berarti mengingat siapa yang telah mendidik. Menjaga sanad perjuangan berarti memastikan bahwa apa yang telah dibangun para masyaikh tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus hidup dalam pengabdian generasi setelahnya.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id