Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
31 Maret 2026 | 19:57 WIB
Inspirasi

KH Miftachul Akhyar: Syawal Jadi Momentum Naik Iman Level

IMG
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: tangkapan layar Multimedia KH Miftachul Akhyar). (Foto: Ist).

 

SURABAYA (Surau.ID) – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, menegaskan bulan Syawal merupakan momentum peningkatan kualitas ibadah, khususnya dalam memperbanyak dzikir setelah menjalani Ramadan.

Menurut Kiai Miftach, makna Syawal sendiri identik dengan peningkatan, sehingga umat Islam didorong tidak kembali pada kebiasaan sebelumnya, melainkan memperbaiki kualitas keimanan.

“Syawal itu bulan peningkatan. Harus meningkat, jangan kayak kemarin,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, setelah menjalani Ramadan, umat Islam berada dalam kondisi kembali kepada fitrah. Momentum ini dinilai tepat untuk meningkatkan derajat ketakwaan melalui dzikir dan amal ibadah lainnya.

“Ini pas sekali pada saat ini, bulan Syawal, di saat kita disebut sudah kembali kepada fitrahnya,” kata dia.

Menuju Derajat Ahli Dzikir

Kiai Miftach menekankan bahwa dzikir tidak cukup dilakukan secara lisan, tetapi harus diiringi kehadiran hati yang sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT.

“Kalau orang dzikir itu kan hatinya itu Allah saja. Kalau sudah begitu, tangan kita, mata kita, telinga kita, semua anggota tubuh kita mengarah kepada Allah,” ujarnya.

Ia menambahkan, menjadi ahli dzikir tidak berarti hanya fokus pada ibadah dzikir semata, melainkan tetap menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah secara konsisten.

“Hal hal yang wajib kita tuntaskan, yang sunnah kita lakukan terus sehingga mencapai sebuah terminal yang di situ kita menemukan halawatudz dzikri atau halawatul imam, manisnya zikir atau manisnya iman. Yang mana saat itu semua gerakan kita itu sudah mengarah kepada Allah semua,” tuturnya.

Menurut dia, dalam hadits qudsi disebutkan bahwa hamba yang mencapai derajat tersebut akan mendapatkan kecintaan Allah. Bahkan, doa yang terlintas dalam hati pun dapat dikabulkan.

“Dikatakan, sungguh manakala dia minta, mintanya tidak harus diucapkan, krentek saja, Allah kan maha tahu,” kata dia.

Kiai Miftach menutup dengan mengingatkan bahwa meskipun Allah mengetahui segala kebutuhan manusia, doa yang diucapkan tetap menjadi bentuk penghambaan dan ketergantungan kepada-Nya.

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id