PROBOLINGGO (Surau.ID) – Kreativitas santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar patut mendapat apresiasi. Tiga siswa SMA pesantren ini berhasil mengubah limbah bonggol jagung menjadi produk ramah lingkungan bernama Bonggol Arum, yang berfungsi sebagai penyerap bau, pengatur kelembapan, sekaligus penyegar udara alami.
Inovasi tersebut lahir dari inisiatif Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim. Mereka tergerak oleh melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang dan keinginan menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi kesehatan lingkungan dalam ruangan.
“Kami melihat limbah bonggol jagung ini sangat melimpah, namun sering dibakar atau dibuang. Padahal, banyak orang mengalami masalah bau dan kelembapan di rumah yang berdampak pada pernapasan. Dari situ kami mencoba membuat solusi,” kata Farrell dilansir Jatim Times, Kamis (26/2/2026).
Melalui proses pirolisis atau pembakaran tanpa oksigen pada suhu tertentu, bonggol jagung diubah menjadi biochar berpori tinggi. Struktur ini efektif menyerap bau, kelembapan, dan polutan ringan di udara.
Untuk menambah nilai guna, biochar dipadukan dengan ekstrak pewangi alami seperti serai, kayu manis, dan daun jeruk, lalu dikemas dalam kantong kain ramah lingkungan.
Farrell menegaskan bahwa keunggulan Bonggol Arum terletak pada fungsionalitas sekaligus keberlanjutan. “Produk ini aman dan eco-friendly karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti desikan sintetis,” ujarnya.
Keberhasilan tim ini tidak lepas dari pendampingan guru, Rachmadanti Chairatul Nisa. Ia membimbing para siswa sejak tahap riset hingga persiapan presentasi.
“Saya bangga karena mereka mampu melihat potensi sederhana di sekitar menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan,” ujar Rachmadanti.
Upaya mereka membuahkan prestasi. Dalam ajang Olympicad VIII tingkat nasional di Makassar pada Februari 2026, inovasi Bonggol Arum meraih medali perak dengan skor 84,7 dan masuk dalam sepuluh besar nasional.