CIREBON (Surau.ID) – Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, menghadiri puncak Gema Selawat Kebangsaan dan Khataman Nasional Dalā’il al-Khayrāt di Cirebon pada Senin (7/9/2026).
Kegiatan di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia tersebut mencatatkan partisipasi hingga 2.041.377 peserta dari 23.688 titik di 35 provinsi. Capaian ini sukses menembus 115 persen dari target nasional.
Kitab karya Imam al-Jazuli asal Maroko abad ke-15 ini menyebar luas global. Di Nusantara, jejak manuskripnya tersebar mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, hingga Melayu.
Transformasi Tradisi dan Sanad Keilmuan
Transmisi Dalā’il al-Khayrāt berkembang melalui jaringan ulama, komunitas sufi, serta perdagangan kitab. Penyajiannya mengalami lokalisasi budaya lokal tanpa mengubah keaslian isi teks utamanya.
Dalam ajang tersebut, para peserta menerima Ijazah Kubra dari ulama Maroko dan pengasuh pesantren. Penerimaan ijazah ini menjadi bentuk tabarruk serta penghormatan terhadap mata rantai sanad keilmuan.
Mengamalkan Nilai dan Akhlak Kenabian
Seiring perkembangan zaman, pembacaan kitab selawat ini bertransformasi dari media manuskrip tulisan tangan hingga ranah digital. Meski medium berubah, pusat spiritualnya tetap berfokus pada kecintaan kepada Rasulullah.
“Dalā’il al-Khayrāt adalah wasilah untuk merawat selawat dan cinta kepada Rasulullah. Cinta itu harus bergerak dari lisan menuju pengenalan terhadap sirah, dari sirah menuju ittibā’, dan dari ittibā’ menuju akhlak,” ujar Muchlis M. Hanafi, Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag.
Semangat selawat diharapkan terus menginspirasi umat dalam menebarkan kasih sayang dan merawat persaudaraan.