JAKARTA (Surau.ID) — Ribuan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2026). Aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang berlangsung serentak di lebih dari 300 titik di seluruh Indonesia pada 22–24 Juni 2026.
Respons atas Rapor Merah Pemerintah
Ketua Umum PB PMII, M. Shofiyulloh Cokro, menyatakan bahwa aksi bertajuk “Evaluasi Total Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran” ini adalah bentuk tanggung jawab moral mahasiswa sebagai agen kontrol sosial. Menurutnya, terdapat banyak catatan rapor merah dan ketidakjelasan arah kebijakan pada Kabinet Merah Putih yang menuntut peran nyata mahasiswa.
“Panggilan sejarah kembali memanggil kita. Menumpuknya persoalan dan arah kebijakan yang tidak jelas menuntut peran nyata mahasiswa,” ujar Cokro. Ia menegaskan bahwa aksi ini bukan serangan personal, melainkan partisipasi konstruktif untuk mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan agar kembali berpihak kepada rakyat.
Lima Tuntutan Utama PMII
Dalam aksi tersebut, PB PMII menyampaikan lima tuntutan krusial kepada pemerintah dan DPR:
Komitmen Kawal Reformasi
PMII memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan guru yang dinilai masih tertinggal. Mereka mendesak pemerintah memberikan penghasilan layak, perlindungan profesi, dan kebijakan yang menjamin martabat tenaga pendidik di seluruh penjuru negeri.
PB PMII menyatakan akan terus mengonsolidasikan gerakan kader selama rangkaian aksi berlangsung hingga 24 Juni mendatang. Mereka juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk bersatu mengawal proses evaluasi pemerintahan secara kritis, tertib, dan bermartabat demi menjaga arah perjalanan bangsa.