Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
01 Maret 2026 | 18:25 WIB
Pesantren

Pesantren Duafa di Balai Kota Yogyakarta, Ruang Teduh Pekerja Rentan Selama Ramadan

IMG
Para peserta Pesantren Duafa, mengikuti kajian menjelang berbuka puasa, di Masjid Pangeran Diponegoro, kompleks Balai Kota Yogyakarta (Foto: Istimewa).

 

YOGYAKARTA (Surau.ID) – Suasana sore di bawah pilar-pilar hijau Masjid Pangeran Diponegoro, kompleks Balai Kota Yogyakarta, tampak berbeda. Puluhan pria paruh baya duduk bersila dengan khusyuk, mengenakan baju koko putih, wajah mereka menyisakan lelah selepas bekerja seharian.

Tak ada deru kendaraan atau bunyi perkakas. Yang terdengar hanya lantunan materi keislaman menjelang berbuka. Mereka merupakan peserta Pesantren Duafa, program tahunan yang digagas Badan Amil Zakat Nasional Kota Yogyakarta.

Program bertajuk “Golek Ganjaran Entuk Bayaran” itu dirancang menjadi ruang jeda bagi pekerja rentan di Kota Pelajar untuk memperdalam ibadah tanpa sepenuhnya meninggalkan tanggung jawab mencari nafkah.

Oase Spiritual bagi Pekerja Harian

Pelaksana Bidang II Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas Kota Yogyakarta, Kengy Gilang Ramadhan, menjelaskan Pesantren Duafa telah berjalan rutin sejak 2016. Menurut dia, program ini memberi kesempatan bagi pekerja harian yang selama Ramadan kerap kesulitan memaksimalkan ibadah.

“Kami ingin memberi ruang bagi bapak-bapak pekerja harian yang mungkin selama Ramadan ibadahnya kurang optimal karena harus berjuang mencari nafkah,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Sebelum pandemi Covid-19, kegiatan berlangsung dengan sistem menginap sepanjang Ramadan. Namun setelah pandemi, format diubah menjadi lebih ringkas, yakni setengah hari dari sore hingga malam.

Sekitar pukul 16.30 WIB, 50 peserta, mulai dari pengayuh becak, buruh bangunan, pengemudi ojek daring hingga penambal ban berkumpul di masjid. Mereka berganti dari pakaian kerja ke busana ibadah yang telah difasilitasi panitia.

Sasarannya adalah warga berusia di atas 40 tahun, berdomisili di Kota Yogyakarta, dan masuk kategori rentan secara ekonomi. Peserta juga diminta menyertakan surat keterangan aktif dari masjid setempat agar selepas program tetap istiqamah.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan kajian menjelang berbuka, salat Magrib berjemaah, buka puasa bersama, lalu dilanjutkan salat Isya, Tarawih, hingga tadarus Al-Qur’an dan pendalaman materi keislaman.

“Program ini berlangsung 25 hari, sejak awal Ramadan hingga lima hari sebelum Idulfitri,” kata Kengy.

THR dan Dukungan Ekonomi

Selain pembinaan spiritual, Baznas turut mempertimbangkan kondisi ekonomi peserta yang waktunya berkurang untuk bekerja. Sejak awal pendaftaran, masing-masing peserta telah menerima paket sembako dan perlengkapan ibadah lengkap.

Pada akhir program, setiap peserta akan memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp1 juta. Bantuan tersebut diharapkan membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga selama Ramadan.

“Selain mencari pahala dan menimba ilmu, bapak-bapak ini insyaallah juga mendapat berkah THR untuk merayakan Lebaran bersama keluarga,” tuturnya.

Melalui Pesantren Duafa, Baznas Kota Yogyakarta berupaya menghadirkan keseimbangan antara penguatan spiritual dan dukungan kesejahteraan, agar Ramadan dapat dijalani para pekerja rentan dengan lebih tenang dan bermakna.

Penulis: Khoirul Umam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id