SURABAYA (Surau.ID) — Insiden ibu hamil yang ditandu warga melintasi perbukitan terjal di Desa Cangkramaan, Kecamatan Kangayan, memicu kecaman keras dari Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Abdur Razak, Jumat (17/04/2026/). Ia menyebut tragedi yang menimpa Irayana (36) itu sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah menjalankan kewajiban konstitusionalnya.
Razak menilai kondisi infrastruktur yang lumpuh di wilayah kepulauan bukan lagi sekadar masalah teknis anggaran, melainkan bentuk pengabaian terstruktur terhadap hak hidup rakyat.
“Sangat biadab! Di tengah narasi kemajuan dan modernisasi, kita masih dipaksa melihat ibu hamil bertaruh nyawa di atas tandu bambu karena akses jalan yang menyerupai jalur pendakian. Ini bukan hanya kelalaian, ini adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah melalui pembiaran!” tegasnya.
Razak turut menyoroti diskriminasi pembangunan yang masih tajam antara wilayah perkotaan dan kepulauan. Ia menilai pemerintah kerap menutup mata terhadap realitas di lapangan dan hanya sibuk dengan laporan administratif di atas meja.
“Jangan biarkan rakyat terus-menerus disuguhi janji-janji manis saat musim politik, namun ditinggalkan saat mereka butuh aspal. Rakyat Kangean juga bayar pajak, mereka adalah warga negara yang sah, tapi mengapa diperlakukan seperti warga kelas dua yang hak keselamatannya diabaikan?” tandasnya.
Sebagai representasi organisasi mahasiswa tingkat Jawa Timur, Razak mendesak pemerintah segera mengambil langkah darurat dan turun langsung melihat kondisi di lapangan. Ia memperingatkan bahwa tragedi ini bisa menjadi pemantik gerakan sosial yang lebih luas.
“Kami menuntut pemerintah segera turun, lihat langsung penderitaan di bawah, dan segera bangun jalan tersebut. Jangan tunggu ada nyawa yang melayang hanya untuk dijadikan alasan evaluasi. Jika nurani pemerintah sudah mati, maka kami yang akan turun ke jalan untuk menghidupkannya kembali melalui jalur protes!” pungkasnya.