Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
25 Maret 2026 | 17:27 WIB
Nasional

Rupiah Melemah Tipis, Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar

IMG 20260325 WA0027
Ilustrasi petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja/rwa/pri).

 

JAKARTA (Surau.ID) – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan di Jakarta, Rabu pagi, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat masih ditutupnya Selat Hormuz.

Rupiah turun 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.920 per dolar Amerika Serikat, dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.898 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen risk off di pasar global.

“Sentimen umum masih risk off, harga minyak masih tinggi dan Selat Hormuz masih ditutup, dan investor masih belum sepenuhnya yakin dan terus berhati-hati memantau perkembangannya,” ujarnya, Rabu (25/03/2026).

Penutupan jalur strategis tersebut terjadi di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Iran dilaporkan tetap membuka akses terbatas bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan AS maupun Israel.

Sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia, gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap pasokan energi global.

Harga Minyak Tinggi, Pasar Tunggu Kepastian

Blokade tersebut turut menekan produksi dan ekspor minyak, yang berimbas pada lonjakan harga energi dunia. Saat ini, harga minyak mentah jenis WTI tercatat sekitar 88 dolar AS per barel, sementara Brent menyentuh 98 dolar AS per barel.

Di sisi lain, pasar mulai menangkap sinyal potensi de-eskalasi konflik. Presiden Donald Trump menyatakan telah menunda serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari ke depan.
Ia menyebut langkah tersebut diambil karena dialog dengan Teheran dalam dua hari terakhir berlangsung “sangat baik dan produktif”.

Namun, pernyataan itu dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan tidak ada perundingan dengan AS dan menyebut kabar tersebut sebagai upaya manipulasi pasar minyak dan finansial.

Ghalibaf juga menyatakan masyarakat Iran menuntut respons tegas terhadap pihak yang dianggap sebagai agresor, sementara pemerintah tetap solid mendukung kepemimpinan nasional hingga tujuan konflik tercapai.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id