Tradisi doa kolektif ini digerakkan anak muda alumni pesantren dan digelar rutin dari rumah ke rumah
Situbondo (Surau.ID) – Meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor, mendorong masyarakat untuk tidak hanya memperkuat kesiapsiagaan fisik, tetapi juga membangun ketahanan spiritual. Di Desa Wonorejo, Banyuputih, Situbondo, ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Sholawat Nariyah yang rutin digelar oleh berbagai kelompok sholawat di desa itu.
Ketua Sholawat Nariyah Sahmasy Wonorejo, Ustadz Abdul Basit, mengatakan sholawat menjadi bagian dari ikhtiar batiniah yang terus dijaga di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Menurut dia, doa kolektif menjadi sarana memperkuat harapan dan ketenangan warga.
“Kami ingin desa ini selalu berada dalam lindungan Allah,” ujar Abdul Basit.
Di antara sejumlah kelompok yang aktif, Sholawat Nariyah Sahmasy Wonorejo tercatat sebagai salah satu yang konsisten. Kelompok ini didominasi kalangan anak muda yang sebagian besar merupakan alumni Pondok Pesantren Walisongo. Mereka secara rutin melaksanakan pembacaan Sholawat Nariyah dua kali dalam sebulan dengan jumlah bacaan mencapai 4.444 kali.
Abdul Basit menuturkan jumlah bacaan tersebut tidak dimaknai semata sebagai hitungan numerik, melainkan simbol kesungguhan dalam berdoa secara bersama-sama. Ia menekankan bahwa esensi sholawat terletak pada kekhusyukan dan kebersamaan jamaah.
“Yang terpenting bukan jumlahnya, tetapi kekhusyukan dan kebersamaan dalam berdoa,” katanya.

Selain Sholawat Nariyah Sahmasy, tradisi pembacaan sholawat juga hidup melalui berbagai kelompok lain di Wonorejo. Di antaranya Sholawat Muslimin Iqtisholana Sunan Ampel, Muslimat As Syifa, Sholawat Lailatul Ijtima’, Sholawat Jazona, serta sejumlah majelis sholawat lainnya. Keberagaman kelompok ini menunjukkan bahwa tradisi sholawat telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat desa.
Menurut Abdul Basit, banyaknya kelompok sholawat justru menjadi kekuatan sosial dan spiritual bagi warga. “Semakin banyak yang ikut, semakin kuat doa kita,” ujarnya.
Pelaksanaan Sholawat Nariyah di Wonorejo dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah, menyesuaikan kesiapan warga yang bersedia menjadi tuan rumah. Pola tersebut tidak hanya memperkuat dimensi ibadah, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga.
“Dengan sistem bergilir, semua warga merasa memiliki kegiatan ini,” kata Abdul Basit.
Dalam konteks kebencanaan, Sholawat Nariyah dimaknai sebagai doa kolektif yang menumbuhkan kesadaran spiritual masyarakat. Kegiatan ini menjadi pengingat akan keterbatasan manusia sekaligus pentingnya memperkuat iman dan takwa dalam menghadapi berbagai ujian.
Bagi generasi muda Sahmasy Wonorejo, sholawat tidak dipandang sebagai tradisi masa lalu, melainkan warisan pesantren yang tetap relevan hingga kini. Tradisi tersebut terus dijaga sebagai bagian dari identitas keagamaan dan sosial mereka.
“Ini adalah cara kami menjaga tradisi sekaligus menjaga iman,” ujar Abdul Basit.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, kegiatan sholawat ini mencerminkan peran anak muda desa sebagai agen spiritual dan sosial. Mereka hadir aktif di tengah masyarakat dengan menghidupkan majelis, membangun ruang kebersamaan, dan menumbuhkan solidaritas.
Sholawat Nariyah di Wonorejo pada akhirnya bukan hanya lantunan doa, tetapi juga simbol harapan bersama—harapan akan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan hidup. “Doa bersama membuat kami lebih tenang dan saling menguatkan,” pungkas Abdul Basit.