Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
08 Februari 2026 | 07:07 WIB
Aksara

Romantisasi Gangguan Mental dalam Drama Korea

IMG 20260207 WA0009 (1)
Penulis: Nauranisa Shabrina

 

SEBUAH drama asal Korea berjudul Can This Love Be Translated menjadi salah satu tayangan yang hangat diperbincangkan pada awal tahun 2026. Tokoh Cha Mu Hee dalam drama ini digambarkan mengalami perubahan kepribadian ekstrem hingga memunculkan sosok lain bernama Do Ra Mi. Banyak penonton kemudian menyebut kondisi tersebut sebagai kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID).

Namun, benarkah gambaran tersebut merepresentasikan DID secara utuh?

Secara klinis, DID merupakan gangguan disosiatif yang umumnya berkaitan dengan pengalaman trauma berat, terutama pada masa kanak-kanak. Kondisi ini tidak sekadar menunjukkan perubahan emosi atau sikap yang kontras, tetapi melibatkan disrupsi identitas, yaitu hadirnya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda dalam diri seseorang.

Selain itu, DID juga ditandai oleh amnesia disosiatif, yakni kesulitan mengingat informasi penting tentang diri, pengalaman hidup, atau peristiwa tertentu yang tidak dapat dijelaskan oleh lupa biasa. Gangguan ini kerap berdampak pada fungsi kehidupan sehari-hari, termasuk relasi sosial, pekerjaan, maupun kestabilan emosional.

Karena itu, pemahaman tentang DID perlu berhati-hati dan tidak disederhanakan hanya sebagai perubahan kepribadian yang dramatis.

Jika dibandingkan dengan penggambaran dalam drama, sosok Do Ra Mi memang menunjukkan perubahan emosi, sikap, dan cara berinteraksi yang sangat kontras. Dalam beberapa adegan ia tampak hangat dan lembut, sementara pada adegan lain terlihat dingin, impulsif, bahkan seperti pribadi yang berbeda.

Meski demikian, karakter tersebut tidak memperlihatkan pola amnesia yang konsisten maupun gangguan fungsi sehari-hari yang kompleks sebagaimana lazim ditemukan pada DID. Kesadaran antar kondisi identitas juga digambarkan relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tokoh Do Ra Mi lebih tepat dipahami sebagai representasi dramatik fiksi, bukan potret klinis DID yang utuh.

Alih-alih memaknainya sebagai DID, perubahan perilaku Do Ra Mi dapat dibaca sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Perubahan sikap tersebut menjadi cara tokoh melindungi diri dari emosi yang menyakitkan akibat pengalaman traumatis. Pendekatan ini lebih mendekati penjelasan psikologis daripada pelabelan gangguan identitas yang kompleks.

Di sinilah muncul persoalan yang lebih luas. Drama kerap menampilkan gangguan psikologis sebagai sesuatu yang unik, misterius, bahkan menarik secara emosional. Representasi semacam ini berpotensi memicu romantisasi gangguan mental, sekaligus menyederhanakan realitas penderitaan psikologis demi kebutuhan dramatik.
Padahal, kondisi kesehatan mental nyata jauh lebih rumit, menyakitkan, dan membutuhkan penanganan profesional yang tidak sederhana.

Drama Korea seperti Can This Love Be Translated memang dapat menjadi pintu awal untuk mengenal isu kesehatan mental. Tayangan populer mampu membuka percakapan publik yang sebelumnya dianggap tabu. Namun, pemahaman yang utuh tetap perlu bersandar pada penjelasan ilmiah serta pendampingan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan hanya apakah sebuah karakter benar-benar mengalami DID, melainkan bagaimana kita memandang orang dengan gangguan mental di dunia nyata.

Apakah kita melihatnya sekadar sebagai cerita yang menarik, atau sebagai manusia yang membutuhkan empati, pemahaman, dan dukungan nyata?

___________________________________

*) Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri (UNESA) Surabaya

Penulis: Nauranisa Shabrina
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id