YOGYAKARTA (Surau.ID) – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Uaman (RMI PBNU) secara resmi menutup rangkaian Program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko 2026. Kegiatan penutupan berlangsung khidmat di Yayasan Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, pada Sabtu (6/6/2026).
Persiapan Strategis Menuju Maroko
Program inkubasi ini merupakan upaya strategis PBNU untuk menyiapkan santri yang memiliki kesiapan akademik, penguasaan bahasa, serta kedalaman keilmuan Islam guna melanjutkan studi di luar negeri. Program ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara PBNU dengan Wizaratul Awqof wa Asy-Syu’un Al-Islamiyyah Kerajaan Maroko, yang memberikan akses beasiswa bagi santri NU pada lembaga Ta’lim ‘Atiq.
Ketua RMI PBNU, KH Hodri Ariev, menegaskan bahwa inkubasi ini merupakan pendampingan intensif agar santri siap secara mental dan akademik menghadapi tahapan muqabalah (wawancara) langsung dengan pihak penguji dari Maroko. Ia berpesan agar para santri tetap memegang teguh jati diri sebagai santri NU di mana pun mereka menimba ilmu nantinya.
“Ke manapun para santri belajar, jangan pernah meninggalkan karakteristik santri, jangan pernah meninggalkan pesantren, kiai, dan NU. Beasiswa ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan kapasitas personal dan khidmah kepada jamaah dan jam’iyah,” ujar KH Hodri.
Optimalisasi Kompetensi dan Daya Saing
Dalam dua tahun terakhir, program ini mendapat dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI yang berkoordinasi dengan NU Scholarship. Fokus utama inkubasi adalah mengatasi kendala teknis dalam penyampaian argumen lisan serta memperdalam ilmu alat seperti mantiq dan balaghah yang menjadi standar seleksi di Maroko. Melalui bimbingan alumni Maroko, para santri disimulasikan agar mampu menjawab pertanyaan penguji dengan artikulasi ide yang sistematis dan logis.
PIC Beasiswa Maroko RMI PBNU, Muhammad Iqbal, menyampaikan bahwa saat ini sudah ada 108 santri NU yang menempuh pendidikan di 7 kampus di Maroko. Keberhasilan delegasi PBNU menembus kampus-kampus Ta’limul ‘Atieq yang berada langsung di bawah naungan Kerajaan Maroko menjadi bukti nyata kualitas dan potensi santri Indonesia di kancah internasional.
“Capaian ini menunjukkan bahwa kader santri kita mampu mengharumkan nama Indonesia. Harapannya, capaian ini menjadi semangat bagi calon-calon berikutnya, dan membuktikan bahwa santri kita berpotensi dan mampu mendominasi di Ta’limul ‘Atieq,” terang Iqbal.
Dengan selesainya program inkubasi ini, para santri diharapkan memiliki daya saing tinggi untuk menempuh pendidikan di Maroko, sekaligus menjadi duta NU yang mampu membawa harum nama bangsa di panggung global.