Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
22 September 2026 | 18:49 WIB
Nasional

BRIN Gandeng Kyoto University Dalami Fenomena Atmosfer dan Ionosfer

Gedung BRIN
Gedung BRIN, Jakarta Pusat. {Foto: BRIN}

 

BANDUNG (Surau.ID) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University, Jepang, menggelar Equatorial Atmosphere Radar and Tropical Hydrometeorology School (EARTH School 2026) pada 21–25 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di BRIN Bandung KST Samaun Samadikun tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas peneliti dan mahasiswa dalam memahami fenomena atmosfer, ionosfer, serta dinamika lingkungan Bumi. Peserta juga memperoleh penguatan kemampuan dalam observasi, pengolahan data, penginderaan, hingga pemodelan numerik.

EARTH School 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi riset internasional di bidang sains atmosfer dan geospace. Kegiatan ini mempertemukan peneliti dari BRIN, Kyoto University, Nagoya University, Tokyo Metropolitan University, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Andalas.

Bahas Atmosfer hingga Cuaca Antariksa

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjadi ruang pembelajaran sekaligus pertukaran pengetahuan mengenai berbagai fenomena atmosfer dan lingkungan Bumi.

“Kami harapkan acara ini dapat menjadi wadah untuk membahas berbagai aspek atmosfer dan lingkungan Bumi, mulai dari dasar-dasar atmosfer, pengamatan menggunakan radar dan lidar, meteorologi tropis, pemodelan cuaca numerik, turbulensi atmosfer, hingga kajian ionosfer dan cuaca Antariksa,” ungkap Sulaiman.

Sejumlah peneliti dijadwalkan memaparkan hasil kajian dengan pendekatan dan objek penelitian yang beragam. Asif Awaludin, misalnya, akan membahas pemanfaatan machine learning untuk memperkirakan profil kelembapan atmosfer dengan mengintegrasikan data radar dan RASS.

Sementara itu, Noersomadi akan mengulas pemanfaatan GNSS Radio Occultation untuk mengamati dinamika atmosfer. Erma Yulihastin membawa kajian mengenai cold pool dan keterkaitannya dengan kejadian hujan ekstrem di kawasan maritim Indonesia.

Dari bidang ionosfer, Prayitno Abadi akan memaparkan penelitian mengenai Equatorial Plasma Bubbles serta pengaruhnya terhadap sinyal GNSS. Adapun Albertus Sulaiman akan membahas dinamika gelombang gravitasi atmosfer di kawasan ekuatorial.

Perluas Jejaring Riset Internasional

Selain memperkuat kompetensi peserta, EARTH School 2026 juga diarahkan untuk memperluas jaringan kerja sama penelitian antara Indonesia dan mitra internasional.

“Melalui kolaborasi antara BRIN dan RISH, Kyoto University, dalam EARTH2026 dapat memperkuat kerja sama riset internasional. Kegiatan ini juga didukung oleh JSPS Grant-in-Aid for International Leading Research serta sejumlah program kolaborasi internasional yang berfokus pada variabilitas geospace, pengamatan atmosfer atas, ionosfer, dan magnetosfer,” terang Sulaiman.

Melalui forum tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan dalam memanfaatkan berbagai sumber data dan teknologi penelitian. Pendekatan yang digunakan mencakup pengamatan menggunakan radar dan lidar, pemanfaatan data satelit, machine learning, serta pemodelan numerik.

“Dengan mempertemukan berbagai pendekatan, mulai dari observasi berbasis radar dan lidar, data satelit, machine learning, hingga pemodelan numerik, EARTH School 2026 diharapkan turut memperkuat ekosistem riset atmosfer dan geospace di kawasan Asia Tenggara serta mendorong kontribusi ilmu pengetahuan bagi pemahaman yang lebih baik terhadap sistem bumi,” tutup Sulaiman.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id