PAITON (Surau.ID) – Menjelang peringatan Haul ke-39 KH Hasyim Mino yang dilaksanakan pada Rabu, 6 Mei 2026 (18 Dzulqo’dah 1447 H), kisah keteladanan sang ulama kembali menjadi sorotan. Pendiri Pondok Pesantren Nurul Qodim Kalikajar Kulon ini dikenal memiliki loyalitas dan pengabdian (khidmah) luar biasa terhadap gurunya, KH Moh. Hasan Genggong atau Kiai Hasan Sepuh.
Meski tercatat hanya menimba ilmu selama empat tahun di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Kiai Hasyim Mino dianggap mencapai derajat kewalian dan keilmuan tinggi berkat ketaatannya.
Kiai Ahmad Sibaweh, salah satu alumni Pesantren Nurul Qodim, mengungkapkan bahwa rahasia kebesaran Kiai Mino terletak pada prinsipnya yang tidak pernah menolak perintah guru.
“Selama di Genggong, beliau tidak pernah mengucap kata ‘boten’ (tidak) jika diperintah Kiai Hasan Sepuh, meskipun sebenarnya tugas tersebut di luar kemampuannya,” kenang Kiai Sibaweh.
Salah satu fragmen sejarah yang paling diingat adalah saat Kiai Hasan Sepuh memintanya mencari tukang tebang untuk merapikan pohon mangga yang mulai miring di area pesantren. Alih-alih mencari pekerja, Kiai Mino memilih mengeksekusi tugas itu sendirian.
Motivasinya sederhana namun mendalam: ia ingin gurunya tidak perlu mengeluarkan biaya upah. Tidak hanya menebang, Kiai Mino membersihkan seluruh area, memotong batang pohon menjadi kayu bakar untuk dapur kiai, hingga mencabut akarnya hingga bersih tak berbekas.


Dedikasi ini membuat Kiai Hasan Sepuh terenyuh. Sang guru kemudian memegang pundak Kiai Mino sambil berujar dalam bahasa Madura, “Derejet dikah, No” (Derajatmu tinggi, Mino). Ucapan tersebut diyakini sebagai “ijazah” spiritual yang mengantarkan Kiai Mino menjadi ulama besar.
Bentuk penghormatan Kiai Mino tidak luntur meski ia telah berkeluarga dan mendirikan pesantren sendiri di Kalikajar Kulon. Selama delapan tahun, ia rutin berjalan kaki bersama istrinya dari Paiton ke Genggong hanya untuk menunaikan salat Jumat di masjid gurunya.
Bahkan, ia menanamkan doktrin penghormatan kepada guru secara totalitas kepada para santrinya. Kiai Mino sering berpesan bahwa segala hal yang berkaitan dengan guru harus dimuliakan.
“Bukan sekadar hormat pada kucingnya, tapi karena itu adalah kucing milik guru,” ujar Kiai Sibaweh menirukan dawuh Kiai Mino yang menekankan betapa sakralnya hubungan murid dan guru.
Kini, warisan nilai-nilai takdim dan khidmah tersebut terus hidup dan diperingati setiap tahun oleh ribuan santri serta simpatisan dalam majelis haulnya di Paiton.