Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
26 Mei 2026 | 10:23 WIB
Inspirasi

Kiai Zuhri Zaini: Jangan Dengki Melihat Orang Lain Bahagia

Kiai zuhri zaini
KH. Moh. Zuhri Zaini.{Foto: YouTube Universitas Nurul Jadid}

 

PAITON (Surau.ID) — Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini mengingatkan para santri agar tidak terjebak dalam rasa hasad dan dengki ketika melihat kebahagiaan atau keberhasilan orang lain. Menurut beliau, sikap iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain merupakan penyakit hati yang dapat merusak keimanan serta mengaburkan pemahaman terhadap takdir Allah.

“Semua itu adalah ujian. Orang yang diberi kelebihan terkadang menjadi sombong, sedangkan yang tidak diberi kelebihan bisa merasa dengki. Keduanya sama-sama berbahaya,” terang Kiai Zuhri dalam kuliah tasawuf di Musala Riyadus Sholihin, Kamis (09/04/2026).

Kiai Zuhri menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, rasa hasad kerap muncul ketika seseorang melihat orang lain lebih bahagia, sukses, atau memiliki kelebihan tertentu. Namun, beliau menegaskan bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, karena segala nikmat, kelebihan, maupun kekurangan merupakan ketentuan Allah.

Beliau menambahkan bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi manusia untuk melihat siapa yang paling baik dalam amal, sikap, dan perilaku.

“Ketika seseorang diberi kelebihan, ia diuji untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika diberi kekurangan, ia diuji untuk bersabar dan menerima keadaan,” dawuhnya.

Ujian Hidup dalam Nikmat

Kiai Zuhri menekankan bahwa rasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain pada dasarnya sama dengan mempertanyakan ketetapan-Nya. Karena itu, beliau mengajak umat Islam, khususnya para santri, agar tidak mudah membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain.

“Tentu, bagi orang yang beriman kepada Allah, tahu bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kemauan Allah,” terang Kiai Zuhri.

beliau menambahkan, ujian hidup tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan. Kenikmatan, kekayaan, popularitas, maupun kemudahan hidup juga merupakan bentuk ujian dari Allah. Orang yang kaya, kata beliau, diuji melalui hartanya—apakah ia mampu bersyukur, menggunakan hartanya di jalan yang benar, serta menjauhi kesombongan dan sifat ujub.

“Seseorang yang mampu memanfaatkan hartanya untuk kebaikan dan tetap rendah hati termasuk golongan orang mulia,” dawuhnya.

Sabar dalam Setiap Kekurangan

Di sisi lain, Kiai Zuhri menegaskan bahwa kemiskinan atau keterbatasan bukan berarti keburukan. Semua bergantung pada sikap manusia dalam menyikapi keadaan.

Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang hidup dalam kekurangan namun tetap sabar, ikhlas, dan menerima takdir Allah justru dapat menjadikan keadaan itu sebagai jalan untuk menambah pahala.

Sebagai teladan, Kiai Zuhri mengingatkan kehidupan Rasulullah SAW yang memilih hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk hidup berkecukupan. Nabi Muhammad SAW tidak menumpuk harta dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Harta yang beliau miliki justru dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Kiai Zuhri menuturkan, Rasulullah SAW bahkan sering hidup dalam kesederhanaan hingga merasakan lapar. Ketika kembali ke rumah dan tidak menemukan makanan, beliau memilih berpuasa. Sikap itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW lebih mengutamakan akhirat serta keridaan Allah daripada kesenangan duniawi.

Pada akhir tausiyahnya, Kiai Zuhri kembali mengingatkan bahwa dengki merupakan penyakit hati yang harus dijauhi setiap Muslim.

“Dengki muncul ketika seseorang merasa berat melihat orang lain memperoleh kelebihan, lalu bertanya mengapa dirinya tidak mendapatkan hal yang sama. Sikap seperti ini termasuk penyakit hati yang bisa mendatangkan dosa,” tegas Kiai Zuhri.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id