“Seorang ibu mencintai anaknya yang cacat. Maukah ia menukar anaknya dengan anak yatim yang gagah? Tidak. Kita berkata di situ ada rasionya hati,” jelas Prof. Muhammad Quraish Shihab
____________________________________
PENDIRI Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), Prof. Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan bahwa problem keberagamaan modern kerap berangkat dari kekeliruan mendasar: mempertentangkan akal dan hati dalam memahami ajaran agama. Padahal, dalam tradisi Islam, keduanya justru berjalan beriringan, dengan peran dan wilayahnya masing-masing.
Pesan tersebut disampaikan dalam Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bertema Isra’ Mi’raj: Spiritualitas di Tengah Rasionalitas Modern, yang dirangkaikan dengan Pelepasan Santri Pascatahfidz Bayt Al-Qur’an XXXV, di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/01/2026).
Menurut Abi Quraish—sapaan akrabnya—manusia sering terjebak pada dikotomi palsu antara rasionalitas dan spiritualitas, seolah akal dan hati berada dalam posisi saling menegasikan. Padahal, masing-masing memiliki “rasio” yang bekerja sesuai kodratnya. “Memang secara umum kita bisa berkata bahwa akal berbeda dengan hati. Tetapi kalau akal ada rasionya, maka hati juga ada rasionya,” ujar Abi Quraish.
Ia mencontohkan bagaimana akal kerap kewalahan menjelaskan pengalaman batin manusia. Logika rasional sulit menerima kenyataan bahwa seseorang yang gagah bisa jatuh cinta kepada orang yang secara fisik dianggap kurang menarik. Namun, realitas membuktikan hal tersebut bisa terjadi. Demikian pula cinta seorang ibu kepada anaknya yang memiliki keterbatasan fisik. “Seorang ibu mencintai anaknya yang cacat. Maukah ia menukar anaknya dengan anak yatim yang gagah? Tidak. Kita berkata di situ ada rasionya hati,” jelasnya.

Dalam konteks Isra Mi’raj, Abi Quraish menegaskan bahwa kesalahan banyak orang terletak pada penggunaan pendekatan yang tidak tepat. Peristiwa Isra Mi’raj, menurutnya, bukan objek sains yang bisa diuji melalui pengamatan dan eksperimen. “Isra Mi’raj bisa diamati? Bisa dicoba? Tidak. Maka tidak mungkin kita memahaminya dengan metode sains,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa sains memiliki wilayah kerja sendiri, sementara perkara ghaib menuntut pendekatan iman. Kekeliruan memahami agama, kata Abi Quraish, sering terjadi karena manusia memaksakan satu alat untuk semua objek kajian. “Kita harus percaya bukan karena kita tahu, tetapi justru karena kita tidak tahu,” ujarnya.
Dalam hal keimanan, Abi Quraish juga menegaskan keterbatasan akal. Akal, menurutnya, tidak mampu melahirkan iman. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran gurunya, Syekh Abdul Halim Mahmud. “Kalau kita mau bahas tuhan dengan akal, kita tidak akan ketemu. Tapi kalau kita pakai hati kita bisa ketemu,” katanya.
Lebih jauh, Abi Quraish menekankan bahwa dalam perkara ghaib, kepercayaan dibangun atas dasar kredibilitas sumber. Ia mencontohkan sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang membenarkan kabar Isra Mi’raj dari Nabi Muhammad SAW, meskipun saat itu banyak orang menilainya tidak masuk akal. “Kalau dia (Nabi Muhammad) yang bilang saya percaya. Karena di orang yang benar, sehat dan jujur,” katanya.
“Kesadaran akan ketidaktahuan adalah bentuk pengetahuan,” tambah penulis Tafsir Al-Misbah tersebut.
Abi Quraish pun menutup dengan menegaskan bahwa keseimbangan antara akal dan hati merupakan fondasi penting dalam beragama. Tanpa keseimbangan itu, agama mudah terjebak pada formalisme rasional atau spiritualitas tanpa pijakan.
“Jadi ini dasar yang harus diketahui untuk membahas di mana letak penggunaan rasio dan di mana letak penggunaan spirit,” pungkasnya.
*) Sumber: NU Online