Yogyakarta (Surau.ID) – Kondisi laut di lokasi hilangnya kontak KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB tercatat bergelombang dengan tinggi gelombang signifikan mencapai 1,56 meter. Namun, berdasarkan analisis oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi tersebut masih berada dalam kategori sedang dan tidak menunjukkan gelombang ekstrem.
Melansir BRIN, analisis dilakukan oleh Kelompok Riset Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, dengan mengkaji sejumlah parameter kelautan, mulai dari gelombang, pasang surut hingga arus laut.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, mengatakan analisis tersebut merupakan kajian ilmiah independen yang menggunakan data model operasional kelautan internasional. Kajian itu ditujukan untuk memberikan informasi tambahan bagi proses penyelidikan resmi.
“Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter). Kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter,” ucap Widodo.
Meski kondisi laut tergolong sedang, analisis menunjukkan gelombang pada malam kejadian didominasi oleh gelombang yang terbentuk akibat angin lokal. Komponen tersebut mencapai sekitar 96 persen dari tinggi gelombang total.
“Gelombang pada malam kejadian didominasi gelombang yang dibangkitkan oleh angin setempat, sekitar 96 persen dari tinggi total, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh. Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4–5,” terang Widodo.
BRIN menegaskan kajian oseanografi tersebut bukan merupakan investigasi kecelakaan. Analisis itu juga tidak digunakan untuk menentukan penyebab tunggal hilangnya kontak KM Virgo Transport 8 maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
Penyelidikan kecelakaan tetap menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas pelayaran.
Gelombang Datang dari Samping Kapal
Selain tinggi gelombang, tim peneliti BRIN menganalisis arah dan periode gelombang di sekitar lokasi kejadian. Hasilnya menunjukkan gelombang bergerak dari arah tenggara-timur dengan sudut sekitar 122 derajat.
Posisi tersebut secara geometris membuat gelombang datang dari sisi kapal atau dikenal sebagai beam seas. Situasi semacam ini dapat menimbulkan gerakan oleng berulang pada kapal.
Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang berada pada rentang 5,66–6,47 detik. Sementara itu, periode alami oleng kapal dengan panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter diperkirakan berada pada kisaran 11–18 detik berdasarkan parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian.
Perbedaan antara periode gelombang dan periode alami oleng tersebut menunjukkan bahwa dalam skenario yang dianalisis tidak terbentuk penguatan oleng akibat resonansi.
“Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum dan 11,2–11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi. Kontribusi angin terhadap kemiringan diperkirakan kurang dari setengah derajat. Angka-angka ini berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah kisaran 50–60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak,” tambahnya.
Data Arus dan Gelombang Jadi Masukan Pencarian
Analisis BRIN tidak hanya menggambarkan kondisi laut ketika KM Virgo Transport 8 hilang kontak. Data mengenai arus dan gelombang juga dapat digunakan sebagai masukan dalam memperbarui wilayah pencarian.
Peneliti menemukan komponen hanyut Stokes yang berasal dari gelombang berkontribusi rata-rata 41,2 persen terhadap arus permukaan total. Karena itu, perhitungan lintasan hanyut yang hanya menggunakan arus permukaan tanpa memperhitungkan pengaruh gelombang berpotensi menghasilkan perkiraan jalur hanyut yang berbeda.
Arus laut di lokasi kejadian juga mengalami perubahan arah mengikuti siklus pasang surut yang berlangsung sekitar 24 jam. Faktor tersebut menjadi salah satu parameter yang perlu diperhitungkan ketika area pencarian diperbarui dari satu siklus pasang surut ke siklus berikutnya.
Widodo juga menyebut kedalaman laut di sekitar titik kejadian mencapai sekitar 27 meter. Kondisi tersebut memungkinkan penggunaan sejumlah teknologi untuk membantu survei apabila bangkai kapal menjadi objek pencarian.
“Kedalaman laut di titik kejadian sekitar 27 meter. Kondisi kedalaman tersebut memungkinkan survei bangkai kapal menggunakan multibeam echosounder, side-scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), maupun penyelaman, sesuai prosedur dan kewenangan pihak yang melakukan pencarian serta penyelidikan,” pungkasnya.