KULON PROGO (Surau.ID) – Kehidupan Wefi Yuliani berubah setelah suaminya mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai buruh panggul kayu di kawasan perbukitan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Sejak peristiwa itu, perempuan 42 tahun yang akrab disapa Yuli tersebut menjadi penopang utama kebutuhan keluarga.
Kecelakaan itu terjadi ketika suaminya mengambil bambu di area jurang dengan kondisi pijakan yang tidak stabil. Akibat insiden tersebut, suaminya mengalami patah tulang pada bagian kaki dan tangan hingga tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya.
“Jatuh ambil bambu, jadi bambunya agak miring, nyangkut tapi itu yang mau diambil. Kayu pijakannya gak kuat bawahnya jurang ada 10 meter,” kenang Yuli.
Sudah lebih dari satu tahun keluarga mereka bertahan dengan kondisi tersebut. Beban ekonomi rumah tangga perlahan beralih sepenuhnya kepada Yuli, yang sebelumnya hanya membantu memenuhi kebutuhan dapur.
“Kalau dulu saya cuma bantu-bantu untuk kebutuhan dapur. Kalau sekarang harus semua, tapi sekarang ada MBG masih ada yang diharapkan,” tuturnya lirih.
Di rumah sederhananya, Yuli tinggal bersama suami dan dua anaknya. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas 9 SMP, sementara anak keduanya masih menempuh pendidikan kelas 1 SD.
Sebelum bergabung dengan dapur MBG, Yuli bekerja membantu usaha katering secara serabutan. Penghasilannya tidak menentu karena pekerjaan hanya datang sesekali dalam sepekan.
Situasi semakin berat setelah pandemi Covid-19 membuat pesanan katering menurun drastis. Kondisi itu membuat Yuli harus mencari peluang lain demi menjaga kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.
Kesempatan tersebut datang ketika ia mendengar adanya perekrutan relawan dapur MBG di wilayah Samigaluh. Meski awalnya hanya mencoba peruntungan, Yuli akhirnya diterima dan mulai bekerja hingga sekarang.
“Tadinya coba-coba, ya harapannya besar. Ternyata diterima, alhamdulillah, sampai sekarang,” ujarnya.
Kini, hampir setiap malam Yuli berangkat menuju dapur SPPG 01 Samigaluh untuk bekerja menyiapkan lauk nabati seperti tahu dan tempe. Ia memulai aktivitas sejak sekitar pukul 00.00 hingga pagi hari.
Rutinitas bekerja sepanjang malam kerap membuatnya merasa lelah dan jenuh. Namun, ia memilih tetap bertahan karena pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan tetap bagi keluarganya.
“Kadang jenuh ada, takut juga ada. Tapi kalau pikirnya untuk kebutuhan keluarga, ya sudah, semangat lagi,” katanya.
Bagi Yuli, pekerjaan di dapur MBG tidak sekadar memberi penghasilan. Kehadiran program itu menjadi penyangga harapan baru agar keluarganya tetap mampu bertahan di tengah kondisi sulit.